Dalam merayakannya masyarakat selalu berbondong-bondong meramaikan dan
mengikuti kegiatannya, contohnya seperti mendengarkan ulama berdakwah, memasak
makanan untuk masyarakat yang menghadiri dan meramaikan untuk merayakan
peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Namun tahu kah apa hukumnya merakayan Maulid Nabi Muhammad ﷺ? Ternyata berbagai ulama berpendapat dan pandangan tersendiri mengenai hukum perayaan
memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan berbagai pemahamannya dalam Al-Qur’an
dan hadits yang para ulama baca, begini kata ulama beberapa pandangan dan
pendapat mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ :
Imam Al-Junaidi Al-Baghdadi. Beliau mengungkapkan, “Siapa yang menghadiri Maulid Nabi ﷺ dan memuliakannya, maka ia akan menang dengan imannya.”
Imam Hasan Al-Basri pernah
berkata, “Jika aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, maka aku ingin
menginfakkannya untuk pembacaan maulid Nabi ﷺ (kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.”
ulama besar bermazhab Syafii Imam Suyuthi berkata, “Hukum pelaksanaan maulid Nabi ﷺ,
yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca
kisah Nabi ﷺ pada permulaan perintah
Nabi ﷺ serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian
mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah
masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala
orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengangungkan Nabi ﷺ serta
menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran beliau ﷺ.”
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani pernah ditanya tentang maulid, lalu beliau
menjawab, “Adapun peringatan kelahiran Nabi ﷺ adalah bidah yang tidak kami
terima dari ulama salaf sampai abad ke-3 Hijriah. Meskipun demikian, praktik
ini melibatkan bentuk-bentuk terpuji dan tidak terpuji.
Apabila dalam praktik tersebut orang-orang hanya melakukan hal-hal yang
terpuji dan tidak melakukan yang sebaliknya, maka itu adalah bid'ah yang baik.
Namun, jika tidak, maka tidak baik.”
Dengan demikian, boleh atau tidaknya merayakan maulid, bergantung pada
kegiatan yang mengisi peringatan itu sendiri. Jika kita melihat bentuk perayaan
di masing-masing abad, setiap umat mempunyai cara mereka sendiri untuk
merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
Selain itu menurut Ulama Nusantara KH. Hasyim Asy’ari menyarankan
merayakan maulid Nabi ﷺ dengan:
1. Berkumpul, memulai acara.
2. Membaca ayat atau surat Al-Qur'an yang dirasa gampang.
3. Membaca hadis atau sirah Nabi Muhammad ﷺ tentang masa kandungannya,
lahirnya, masa kecilnya, dan pertumbuhannya.
4. Menyajikan makanan untuk dinikmati bersama.
5. Mengakhiri acara dan kembali ke tempat masing masing.
Masyarakat terdahulu pun dalam merayakannya selalu dengan cara
mengunjungi rumah Rasulullah ﷺ untuk melakukan doa bersama dan berziarah,
mengenang hari kelahiran Nabi besar Muhammad ﷺ.




